; .: SePEnGgAL Kis4H :.: Puasa Senin kamis dan Daud ;
Ikuti Terus ya Jejak Petualangan KHEISYA!!!

Jumat, 25 April 2008

Puasa Senin kamis dan Daud

Tanya: Yang ingin saya tanyakan adalah tentang puasa sunnah Nabi Daud dan puasa Senin-Kamis. Saya sudah lama menjalani puasa Senin-Kamis. Dan akhir-akhir ini saya mulai belajar puasa Nabi Daud. Yang ingin saya tanyakan: lebih utama mana antara puasa Senin-Kamis yang merupakan sunnah Rasul dan puasa Nabi Daud?

Demikian, atas penjelasannya saya mengucapkan banyak terima kasih.

Jawab : Kalau memang kuat melakukan puasa Daud, lakukanlah karena Nabi saw. memerintahkan puasa ini kepada umatnya yang ingin melakukan puasa ‘dahr’ (puasa sepanjang tahun). Namun Nabi melarang puasa ‘dahr’ ini karena ia tidak lebih baik dari pada puasanya Nabi Daud yang cuma separoh dahr: sehari puasa sehari berbuka. Anjuran ini khusus bagi orang-orang tertentu, yang mampu yang masih haus ibadah. Misalnya dia, setelah biasa puasa Senin-Kamis, tiga hari ‘ayyamul bidh’ (13, 14, dan 15 setiap bulan hijriyah), ternyata masih kuat lebih dari itu.

Dilarangnya ‘puasa dahr’ karena ditakutkan jika melakukan puasa ini orang akan melupakan kewajibannya atau mengabaikan hak orang lain, juga hak anggota tubuhnya sendiri. Maka puasa Daud adalah jalan tengah agar manusia tetap memperhatikan dunianya, bukan melulu akhirat. Keseimbangan dunia dan akhirat inilah yang diinginkan oleh Islam. Namun jika dengan melakukan puasa Daud ini kewajiban Saudara kepada orang lain-semisal istri-menjadi terbengkalai, sebaiknya Anda tidak melakukan puasa ini. Puasa ini sunnah sementara hak istri terhadap Anda adalah kewajiban. Dahulukan kewajiban dari sunnah.

Imam Bukhari meriwayatkan sebuah Hadis tentang puasa Daud ini yang artinya, “…puasalah sebaik-baik puasa, puasanya Daud! Dia berpuasa sehari dan berbuka sehari…”.

Imam Muslim dalam kitabnya juga meriwayatkan sebuah Hadis yang artinya, “Puasa yang paling disukai Allah adalah puasanya Daud as., ia berpuasa sehari dan berbuka sehari. Dan salat yang paling disukai Allah adalah salatnya Daud; ia tidur separoh malam, beribadah sepertiga malam, dan tidur lagi seperenamnya.”

Utama mana antara Senin-Kamis dan Daud?

Dalam hal ini, persoalannya bukan sekedar amalan mana yang lebih utama, tapi lebih ke personal yang melakukannya: mampu atau tidak. Bagi orang yang mampu tentu ia lebih banyak memperoleh pahala. Seperti hadis Nabi saw. -riwayat Muslim- kepada Sayidah Aisyah “Pahalamu tergantung pada kesungguhanmu”. (Hadis ini telah menjadi dasar terbentuknya sebuah kaidah fikih: “maa kaana aktsaru fi’lan kaana aktsaru fadhlan”, artinya “Semakin sungguh-sungguh suatu ibadah dilakukan maka semakin besar fadhilah/pahalanya”.) Kesungguhan di sini meliputi dua hal: kualitas dan kuantitas. Jadi semakin bagus kualitas dan kuantitasnya, semakin besar pahalanya.

Sumber : pesanteren online, Seri ke-154, Sabtu, 9 Juni 2001





0 komentar:

Poskan Komentar

 

Got My Cursor @ 123Cursors.com