Jumat, 02 Oktober 2009

Kajian Rabu PAgi

Balasan orang yang melakukan amal kebaikan adalah dimudahkan untuk melakukan kebaikan-kebaikan sejenisnya.

Kajian Rabu Pagi.....
Kembali di buka, duh ada kangen di hati sudah semingguan g ada ta’lim karena hari libur hari raya dan meliburkan diri.

Tema yang diangkat adalah AMALAN apa yang disunnahkan untuk dilakukan bulan Syawal?????

Selain sholat Iedul Fitri dan silaturrahim, tentunya kita semua sudah pada tahu amalan sunnah apa yang harus kita lakukan pada bulan pembalasan ini. Yup benar sekali puasa 6 Hari di bulan Syawal.

”barang siapa puasa 6 hari setelah idul fitri secara berturut-turut maka seakan-akan puasa setahun”

Puasa setahun ?????

Hanya puasa Ramadhan + 6 Hari syawal kita dihitung dengan pahala orang yang puasa 1 tahun apa g tergiur tuh? Makanya mumpung belum terlambat.....Hayuk atuh....

Mengenai hadits Riwayat Bukhori muslim diatas ada khilaf di kalangan ulama. Sebagian ulama megatakan bahwa hadits diatas adalah shohih karena hadist tersebut masuk dalam kategori shohih muslim.dan sebagian yang lain mengatakan bahwa hadist tersebut mauquf bukan sabda rasulullah melainkan perkataan sahabat, Imam ahmad yang lahir sebelum imam muslim sepakat dengan pendapat ini.

Terkait ”PENGAMALANNYA” bagaimana?

Dikalangan ulama mengenai pengamalannya juga ada khilaf. Imam malik termasuk orang yang tidak mengamalkan sunnah ini, alasan beliau adalah karena ulama salaf tidak mengamalkan.

Sebagian yang lain bahwa puasa 6 hari di bulan syawal hukumnya adalah makruh anggapan mereka bahwa puasa ini menyerupai ahli kitab, orang ahli kitab kalau disuruh puasa selalu menambahkan puasa. Dan kita di larang menyerupai ahli kitab.

Pendapat yang ketiga menyanggah pendapat ke-2. Bahwa Puasa 6 hari di bulan syawal yang dilakukan oleh kaum muslimin ada jeda 1 hari dengan puasa sebelumnya (puasa ramadhan) yaitu pada hari iedul fitri sedangkan puasa yang dilakukan orang ahli kitab adalah tidak ada jeda, jelas hal ini tidak menyerupai puasa ahli kitab.

Terkait dengan PELAKSANAAN???

Ada khilaf juga :
1.Disunnahkan dilakukan secara berturut turut ( Imam syafi’i dan Ibnu mubarak)



Hal ini didasarkan pada hadits :
”barang siapa puasa 6 hari setelah idul fitri secara berturut-turut maka seakan-akan puasa setahun”.
Hadist ini lemah karena ada parawi yang maujud dan sanadnya lemah.

2. Tidak ada perbedaan ( boleh dilakukan berturut-turut atau berselang seling)
( Riwayat imam Ahmad )
3. Sebaiknya tidak dilakukan puasa itu pada hari ke-2 ( tepat setelah hari idul fitri) alasannya karena hari itu adalah hari makan dan minum.
Pendapat ini menganjurkan agar puasa 6 hari di bulan syawal dilakukan pada 3 hari sebelum ayyamul bid (tengah bulan) dan 3 hari setelahnya, kira-kira pada hari ke-10.

Namun pendapat yang paling kuat adalah pendapat yang ke-2. Bahwa puasa syawal boleh dilakukan secara berturut-turut ataupun berselang-seling.

Ada masalah mungkin yang dihadapi oleh para akhwat, yang mempunyai hutang puasa pada bulan Ramadhan apakah harus MengQodho’ puasa dulu ataukan puasa syawal lebih dahulu???
Dianjurkan untuk membayar hutang puasa terlebih dahulu. Untuk menyegerekan yang wajib daripada sunnah.
Tetapi kalaupun melakukan puasa syawal dahulu juga tidak mengapa. Seperti yang dilakukan Aisyah, Aisyah tidak pernah mengqodho’ itu selain bulan sya’ban. Ada yang menjadikan ini alasan juga dikarenakan puasa sunnah ( syawal ) waktunya lebih sempit dibandingkan puasa mengqodho’ yang waktunya 1 tahun.

Bagaimana dengan orang yang sengaja membatalkan puasa saat bulan ramadhan???? mereka diibaratkan seperti orang yang mundur dari genderang perang.Dan mereka dianjurkan untuk kembali....

Hikmah Puasa Syawal :
1. Sebagai penyempurna untuk mendapatkan pahala puasa selama 1 tahun penuh.
2. Ramadhan wajib, puasa pada bulan syawal sebagai puasa rawatibnya ramadhan. Kalau sebelum ramadhan disunnahkan untuk puasa pada bulan rajab sedangkan setelahnya adalah puasa pada bulan syawal.
3. Sebagai pembesar hati kita, indikasi bahwa puasa kita pada bulan ramadhan diterima. Didasarkan pada :
Diantara bentuk balasan atas kebaikan yang kita lakukan adalah dimudahkannya melakukan ibadah yang sejenisnya setelahnya.
4. Puasa syawal adalah sebagai ungkapan syukur karena kita mendapatkan limpahan rahmat dan ampunan pada bulan ramadhan.
5. Bahwa puasa syawal menunjukkan bahwa puasa kita adalah ibadah yang berkesinambungan. Syawal menjadi ibadah mata rantai dari ibadah-ibadah yang kita lakukan. Dan Allah menyukai yang demikian.
” Sebaik-baik amal adalah yang kontinu meskipun kuantitasnya sedikit”

So tunggu apalagi?
Bagi yang belum menyempurnakan segera yuk....semoga Allah memudahkan kita semua untuk melakukan setiap amal kebaikan.

Wassalamu’alaykum Wr.Wb

Afwan jiddan dan mohon koreksinya jika ada kesalahan

*)Sumber : Kajian Rabu Pagi Masjid Nurul Huda UNS














[+/-] Selengkapnya...

Rabu, 19 Agustus 2009

JEjak PetuaLanGanku

Petualanganku

“ Di sekitar ‘Arsy ada menara-menara dari cahaya. Di dalamnya ada orang-orang yang pakaiannya dari cahaya dan wajah mereka bercahaya. Mereka bukan para Nabi dan syuhada’, tetapi para Nabi dan Syuhada’ iri pada mereka. Ketika ditanya oleh para sahabat, Rasulullah menjawab : Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah dan saling kunjung karena Allah” (H.R Tirmidzi)

Sahabatku semua yang kucintai karena Allah SWT, tak terasa telah 4 tahun lamanya kita bersama, dalam sebuah Armada yang bernama KELUARGA BESAR MATEMATIKA 2005 FMIPA UNS. Banyak cerita yang telah terukir bersamamu, tertawa, menangis, haru kitapun rangkai bersama, Subhanallah….Sungguh indah renda ukhuwah ini, ukhuwah yang terjalin dengan bumbu-bumbu cinta dalam 1 cita tuk mewujudkan sebuah Asa….
Sahabatku, tengoklah sejenak 4 tahun yang silam!. Masih hangatkah di pikiran sahabat?saat-saat kita awal masuk dulu? Masa-masa OSPEK yang begitu kaya akan kenangan, dan seiring berjalannya waktu kitapun kehilangan tiga orang sahabat, ajeng yang harus pindah universitas demi mewujudkan cita-cita yang lebih baik insyaAllah untuk menjadi seorang Dokter di Unsoed Purwokerto, Hesron yang juga harus pindah kampus ke Unsoed karena dia harus menegakkan Hukum di Indonesia yang dia rasa masih carut marut dan perlu segera diadakan perbaikan di dalamnya, dan desti beliau adalah sahabat kita tercinta yang harus pergi meninggalkan kita selamanya karena kecelakaan, Allah lebih sayang kepada beliau insyaAllah...semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmat dan kasih sayang untuknya.
Hari ini, tanggal 17 Agustus 2009 sebuah moment besar telah kita lewati bersama. Sebuah cerita yang menjadi rangkaian sejarah telah kembali terukir. Suatu saat kita pasti akan merindukan moment-moment seperti ini , entah esok, lusa atau berapa tahun kedepan? SubhanaAllah....tiada kata yang lebih pantas terucap kecuali kata itu saat dendang ukhuwah itu kembali bertasbih....Semoga ceritaku ini, kelak bisa mengobati kerinduan saat rasa itu mendera...
Berawal dari obrolan ringan di fb, tentang usulan akan diadakan piknik angkatan ini terjadi. Ternyata eh ternyata, antusias teman-teman sungguh luar biasa, koment feedback ternyata saling sahut menyahut intinya semua Sepakat!.Memang kusadari, Saat kita terpisahkan dengan konsentrasi ilmu yang ada di Jurusan, rasa-rasanya kita memang tersekat. Kita tak merasakan bahwa kita itu 1 Angkatan. Semoga bukan pandangan subyektif dari diri saya sendiri.... Dan Alhamdulillah rencana itu dapat kita realisasikan bersama, dengan memilih taman sari dan pantai siung sebagai objek wisata. Namun sayang sekali tidak semua dapat mengikutinya, ada sekitar 9 orang yang berhalangan ikut. Aci yang baru nikah kemarin, katanya baru berada di rumah suami. Cie...ngapain yha kira-kira?he.... Si maya, masnah, isna, mitha, inug, anti, eko dan liana kurang begitu tahu alasannya... mungkin ada agenda yang lebih urgent. Walau tidak lengkap, acara tetap berlanjut dan alhamdulillah lancar. Namun ada beberapa pelajaran yang sangat berharga yang dapat kita petik bersama :
Bus Ngadat
” Probabilitas ajal manusia sangatlah dekat maka waspadalah” mungkin kata-kata itu harus kita benamkan dalam hati sejak dini. Benar tidak? Saat Cobaan di hadapan kita, kita baru sadar bahwa ajal terasa sangat dekat????????? Mirip Peristiwa yang kualami tadi malam, begitu heroik dan membuat jantung kita senam, BUS yang kami tumpangi saat menanjak di ketinggian yang lumayan curam dan sangat gelap di daerah praci mantoro, tiba-tiba saja bus berhenti. Bayangkan? Sopir mencoba beberapa kali berikhtiar menambah kekuatan GASnya namun gagal, dan BUS semakin tergelincir mundur. spontan kamipun teriak Histeris!! Apalagi saya yang berada dalam posisi duduk paling depan sangat merasakan betul dan menangkap mimik kegelisahan sang sopir. Kegelisahan dalam hatipun begitu bergemuruh, namun saya mencoba untuk bersikap tenang dan bersahabat dengan keadaan, namun usaha sopir yang beberapa kali GAGAl membuat kita semakin bingung! Beberapa kawan mengusulkan agar kita-kita turun saja dari BUS, namun sang sopir melarangnya. Saat salah satu rekan saya, bayu namanya, yang ingin melihat keadaan luar yang lumayan gelap tiba-tiba Hpnya Jatuh keluar. Diapun meminta ijin untuk keluar dan akhirnya atas desakan kami bersama satu per satu kitapun melarikan diri keluar. Sayapun menjadi orang yang kedua turun dari BUS setelah bayu, saya tidak begitu memikirkan barang apa yang harus saya bawa seperti halnya teman-teman yang sempat-sempatnya turun lengkap dengan tas ranselnya, sedang diri ini hanya beralasakan kaos kaki saat melarikan dari BUS karena alas kaki ( red_ sandal jepit) pun tertinggal dan tidak sempat nyari. Tersirat kegembiraan saat kita semua berhasil keluar dari ancaman itu, saat musibah itu terjadi, keimanan yang kita milikipun di uji. Warga sekitar ada yang menyampaikan ” BUS tersebut mogok karena waktu melewati jalan naik tersebut tidak membunyikan klaksonnya, karena di situ ada penunggunya” kata simbah separuh baya. Dalam hatipun ingin berkata sangat tidak sepakat! Sayapun menyakini semua yang terjadi daam hidup ini tidak lepas dari skenarioNya....jadi BUS mogok itu juga sudah menjadi ketentuanNya bukan???. Walaupun pada kenyataannya BUS tersbut dapat berjalan saat klakson dibunyikan saya kira ada alasan yang jauh masuk logika, bisa jadi karena kita turun jadi beban dalam BUS akan lebih ringan...betul?????




Lecet terseret Ombak

Ini adalah sebuah moment yang mungkin tak akan pernah aku lupakan dalam hidup ini. Saat teman-teman asyik menggoda ombak yang berdatangan, tak dapat ditebak ternyata ombak yang datang begitu dahsyat. Keseimbangan teman-temanpun luluh, dan akhirnya satu demi satu mereka berjatuhan. Teriakan yang memekikpun memecah suasana saat itu, pandangan pengunjung terfokus pada segerombolan mereka. Hati bukan main resahnya saat melihat peristiwa itu, diri ini yang saat itu di tepi pantai laut hanya berdo’a dan berharap semoga teman-teman saya masih bisa terselamatkan dan dikembalikan ke Rumah dalam keadaan utuh. Merekapun lari ke daratan dengan lecet di kaki yang lumayan, karena karang yang berada di dasar laut lumayan tajam walau mungkin tidak setajam silet! He....Alhamdulillah peristiwa itu cukup memberikan peringatan bagi kita semua. Buat ita dwi dkk semoga segera diberi kesembuhan...

Kampas Rem habis

Perjalanan pulang ternyata tidak bersahabat denganku, entah kenapa saya merasakan badan yang kurang enak. Perut mual dan rasanya ingin muntah, ketika itu kucoba untuk menahan semua itu agar aku tidak sampai mabuk darat. Sempat beberapa kali aku mengeluh pada temenku berharap beliau dapat mencarikan minyak kayu putih atau sejenisnya ke teman yang lain, ” rin aku pusing....” ” rin aku pusing....” tetapi beliau mungkin juga kecapekan sehingga tidak mendengar keluh kesahku. Akupun tak tertahan, akhirnya semua isi di dalam perutku keluar semua. Jaket, shall, baju sampai rok semua basah terkena muntahan itu. Dingin Ac yang kurasakan, ternyata semakin dingin dengan kondisiku malam itu...Tidurpun tak nyenyak saat kudengar obrolan kenek BUS dengan sopir yang menceritakan bahwa kampas dari REM BUS itu habis, dan BUS sulit untuk di berhentikan. Astagfirulloh....cobaan apa lagi ya Allah??? Lagi-lagi saya menangkap kecemasan yang luar biasa dari mereka berdua, beberapa No hp saya lihat sibuk untuk bisa di hubungi. Hasilnya nihil. Saat itu BUS melaju sampai kota Sukoharjo dengan kecepatan yang lumayan...sudah dekat memang, tetapi apakah bisa berjalan tanpa kontrol sebuah REM?. Di akhir perbincangan 2 insan yang mengantarkan kita itu, kudengar bahwa kita bisa di oper setelah sampai terminal sukoharjo. Hatikupun senang bukan main. Alhamdulillah....Allah memang masih sangat sayang kepada kita. Dan sesampai di terminal kitapun di oper dengan bus yang secara kualitas jelas beda, tidak sebagus BUS yang kita tumpangi di Awal. Tetapi tidak mengapa! Bisa mengantarkan kembali ke UNS dengan selamat jauh lebih bahagia,,,daripada di dera kecemasan yang luar biasa....Alhamdulillah sekitar pukul 21.301n WIB kami menginjakkan kembali di Bumi UNS....


Begitulah cerita perjalananku dengan teman-teman....
Banyak sekali cerita yang tak mampu aku lukiskan lewat kata-kata, biarlah hati ini yang akan menyimpannya selalu..........
Terima Kasih ya Allah atas Persahabatan yang telah terjalin karena-Mu....
Terima kasih karena aku punya teman-teman yang luar biasa seperti kalian.
Kalian....
Pelengkap dalam hidupku, Sedetik di Mata Selamanya di Jiwa....

Kutulis irama PERSAHABATAN ini...
Disebuah tebing di pinggiran pantai

Sahabatku tahukah kamu kenapa???

Biar ketika menangis....
Burung-burung camarlah yang menghibur kesedihan

Biar ketika tertawa....
Gema-gema alamlah yang mengisi keramaian

Ketika bergembira....
Malaikat memainkan keindahan dawainya,
Ditengah lukisan senja atau fajar di kejauhan

Saat terasa terluka....
Buih-buih pantai yang menghapus dengan deburan ombaknya yang tiada
Akhir mengecup kepedihan

Bila merengkuh kegundahan...
Menatap kedatangan kapal-kapal yang singgah memberi sejuta harapan

Setiap orang yang memandang tebing, akan melihatnya INDAHNYA PERSAHABATAN KITA!!!!

Setiap oranga yang mendengar gema tebing, akan mendengarkan MELODI PERSAHABATAN KITA!!!!

Dan apabila ia telah naik ke tebing sungguh ia telah di tengah-tengah SEGALANYA TENTANG KITA!!!
Hingga kini masih bisa kuraih kalian
Sosok sahabat yang menyertai setiap langkahku
Bilakah diriku berucap ma’af
Masa yang telah kita lalui
Untuk khilaf yang tercipta..

Hingga masih bisa kurangkul kalian
Sosok yang mengaliri cawan hidupku
Bilakah kita berjuang bersama
Tegar melawan tempaan
Semangatmu itu….

Hingga masih bisa kujangkau cahaya
Senyum yang menyalakan asa diriku
Bilakah Dia masih mengizinkan kita bersama
Dan bisa kurasa selalu keajaiban itu
Memiliki sahabat seperti kalian…

Teruntuk teman-teman semua Matematika 2005 FMIPA UNS,sungguh aku mencintaimu karena Allah....Semoga Allah menjaga tali ukhuwah di antara kita. I LUPH U PULL!!!!!!!!!!!

Kos Fahima, diheningnya malam
Pukul 00.42 WIB
19 Agustus 2009



[+/-] Selengkapnya...

Jumat, 14 Agustus 2009

Jika Kau cinta Maka Buktikanlah!!!


Kajian Jum’at Pagi
Masjid Nurul Huda
Universitas Sebelas Maret Surakarta

By ustadz Tamim Aziz

Bismillahirrahmanirrahiim….

Matan Thahawiyyah : 199

“Dan mencintai mereka ( para sahabat Rasulullah SAW) adalah sebagian dari agama, keimanan, dan ihsan sedangkan membenci mereka (para sahabat Rasulullah SAW) adalah tindakan kekufuran, kemunafikan, dan melampui batas”.
Penjelasan :
• Mencintai sahabat Rasulullah SAW adalah bagian dari agama islam karena Allah menganjung dan memuji mereka  membenarkan berita Allah adalah bagian dari Islam. Karena Allah mewajibkan loyalitas (wala’) kepada sesama orang beriman  Cinta sahabat Rasulullah SAW adalah bentuk loyalitas pada mereka.
• Mencintai sahabat Rasulullah SAW adalah bagian dari keimanan, karena mewajibkan hal tersebut  apa yang diwajibkan oleh Allah SWT merupakan cabang iman. Kebaikan-kebaikan adalah cabang dari iman, sifat malupun adalah bagian dari iman menyingkirkan duri dari jalanpun adalah bagian dari iman.
• Mencintai sahabat Rasulullah SAW adalah bagian dari Ihsan karena mencintai para sahabat Rasulullah SAW berarti melakukan kewajiban dan taqarrub kepada Allah SWT ini merupakan bentuk dari ihsan.
• Membenci sahabat Rasulullah SAW adalah bentuk kefuturan jika kebencian ini karena agama  kufur besar. Jika kebencian ini karena dunia  kufur kecil
• Membenci sahabat Rasulullah SAW adalah bentuk kemunafikan karena orang-orang munafik pada masa Rasulullah SAW membenci para sahabat dan memberikan loyalitasnya pada orang-orang kafir.
• Membenci sahabat Rasulullah SAW adalah bentuk melampui batas karena Allah SWT memerintahkan cinta kepada para sahabat  orang yang menyalahi hal ini adalah yang melampui batas.
Firman Allah SWT :
1. QS At Taubah :100
2. QS Al Hadiid :10
Terkait dengan loyalitas :
1. At Taubah 71
2. At Taubah 67
3. Al Hasyr :10

Hadits :
Hadits 1
“ Sebaik-baik kalian adalah masaku, kemudian yang setelahnya, kemudian yang setelahnya”
( HR. Bukhari Muslim)

Hadits 2

“ Jangnlah kalian mencela sahabat-sahabatku, sungguh jika ada yang salah seorang menginfakkan emas sebesar bukit uhud, hal itu tidak sebanding dengan satu *mud yang mereka infakkan dan tidak pula separuhnya”
(HR. Bukhari Muslim)
( * =1 cakupan dg 2 tangan)
Hadits 3

“ Dari annas bin malik dari Nabi SAW beliau bersabda tiada keimanan adalah mencintai kaum anshar, dan tiada kemunafikan adalah membenci kaum anshar”
( HR. Bukhari)





Pelajaran penting yang dapat diambil dari matan diatas :
1. Memberikan penilaian positif terhadap para sahabat Rasulullah SAW, Allah menyanjung dan memuji mereka, demikian juga Rasulullah SAW.
2. Memberikan loyalitas dan pembelaan kepada para sahabat Rasulullah SAW loyalitas orang beriman adalah milik Allah, Rasulullah SAW dan orang-orang beriman
3. Mengambil teladan dan pelajaran dari para sahabat Rasulullah SAW umat ini tidak akan baik kecuali dengan apa yang menjadikan pendahulunya baik.

Semoga bermanfaat !
Jika Kau Cinta Maka Buktikanlah....

Diambil dari catatan kheisya illiyyana jadiid
Kajian Jum’at Pagi NH



[+/-] Selengkapnya...

Siapkah Kita??

Bismillah.
Sahabatku….Sudah Siapkah Kita ?





Tahukah sahabat? Tinggal hitungan hari lagi, Ramadhan “ Syahru maghfiroh” akan menyapa kita. Yang menjadi pertanyaan! Sudah siapkah kita? Sudah berapa banyak perbekalan yang kita persiapkan untuk menyongsong ramadhan kelak? Atau selama ini kita terlenakan dengan aktifitas-aktifitas kosong Hingga Ramadhanpun yang segera tiba terlupakan dari ingatan kita. Astaghfirulloh…. Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang selalu merindu akan datangnya bulan mulia itu. Semoga kita semua dipertemukan dengan ramadhan tahun ini. Amiin

Teringat dengan taujih yang pernah disampaikan Al ustadz, dalam sebuah forum :

Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”
(Q.S Al Baqarah :183)

Tentu kita tidak asing lagi dengan firman Allah yang hilir mudik keluar masuk ke telinga kita. Bahkan kitapun secara tidak sadar hafal dengan redaksional sepotong ayat yang menjadi andalan al akh atau al ustadz dalam khutbahnya karena seringnya ayat itu dilafadzkan. Tetapi pernahkah dalam benak antum melintas pertanyaan tentang dua kata terakhir yang menutup ayat tersebut “ La’alakum Tattaquun”? yang menjadi tujuan utama dalam ibadah yang diwajibkan diawal surat? kenapa kata itu tidak menyertai ibadah lain seperti shalat, haji dll? Seperti halnya yang pernah dipertanyakan oleh ulama, dan ulama lainpun menjawab. Kenapa “ La’alakum Tattaquun” hanya menyertai ibadah puasa??? :
Ulama menegaskan bahwa :
1. Menurut sebagian ulama, ibadah puasa mampu merealisasikan Taqwa dalam berbagai tingkatannya :
a. Taqwa menjaga syahadat : ini adalah tingkatan taqwa yang paling rendah
b. Menjauhkan diri dari dosa-dosa besar : tingkatan taqwa yang kedua
c. Mampu menjaga dari hal yang mubah (halal) sekalipun dari hal yang mampu memalingkan dia dari Allah SWT.
Begitupun juga puasa, Ulama membagi puasa menjadi 3 tahapan :
 Shaum awwam : Puasa ini hanya dilakukan hanya untuk menggugurkan kewajiban
 Shaumul khusus : Tidak hanya sekedar menjaga lapar , dahaga dan jima’ tetapi juga menjaga seluruh tubuh dari maksiat.
 Shaum khusus Fii Khusus : Puasa menjaga hati dari hal-hal yang memalingkan dari Allah SWT.
Menurut pendapat ulama, tingkatan Taqwa akan sebanding lurus dengan tingkatan puasa yang ia capai. Atau singkatnya, ” kalau puasa dia dapat, maka Taqwapun insyaAllah dapat”. Jadi sudah tahu? Tentukan pilihan antum dari sekaranng. Saya yakin kitapun menginginkan untuk mencapai tingkatan Taqwa yang paling tinggi bukan? Kalau begitu mari kita persiapkan agar kitapun mampu melakukan puasa dengan tingkatan yang paling tinggi.

2. Umat islam meluruskan pendapat puasa bukanlah bentuk penyiksaan diri. Orang-orang terdahulu mempunyai pandangan seseorang akan dianggap dekat dengan tuhannya jika dia menyiksa dirinya. Semakin keras dia menyiksa diri semakin dekat pula jarak dengan tuhannya. Begitu juga dengan puasa, mereka menganggap kalau puasa adalah ajang penyiksaan diri untuk mendekatkan diri dengan tuhannya. Bahkan ada cerita seseorang membakar diri, berguling-guling dsbnya ( agar merasa tersiksa) agar semakin dekat dengan tuhannya. Naudzubillah....

Yang sekarang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah ” BAGAIMANA CARANYA AGAR KITA MENCAPAI DERAJAT ORANG-ORANG YANG BERTAQWA” ?????????(Sengaja fontnya capital...ibarat ngomong intonasi lagi yang meninggi hehe).
Ada beberapa hal yang bisa kita ikhtiarkan dan kita latih untuk mencapai gelar tersebut :
1. Mempersiapkan diri akan datangnya bulan Ramadhan.
Untuk menyambut bulan ramadhan kita diwajibkan menyiapkan nafaqoh (materi) ataupun mental (ruhiyah).
Ada 3 golongan orang yang mempersiapan ramadhan :
1. Golongan orang mukmin
2. Golongan orang fajir ( jahat) : dilakukan untuk memanfaatkan kelemahan orang-orang mukmin. Misal : Mentargetkan mencuri 12 pasang sandal di Masjid NH/ Malam agar bisa merayakan lebaran... dsbnya
3. Golongan At-Tajir (pebisnis) orang yang senantiasa melihat celah untuk mengambil keuntungan materi saat bulan ramadhan tiba.

Nahlo, orang yang jahatpun sudah siap-siap menyiapkan akal bulusnya untuk beraksi di bulan Ramadhan, akankah kita akan ketinggalan??????????
Semoga kita menjadi golongan orang yang pertama yang selalu mengorientasikan sesuatu untuk tujuan akhirat....Sesuatu dengan orientasi akhirat insyaAlloh secara langsung dunia juga akan dia dapatkan :-D

2. Membangun mental (ruhiyah) yang mendambakan datangnya bulan ramadhan ( merindu akan datangnya bulan Ramadhan).

3. Membenahi sikap kita terhadap Ramadhan
Ada beberapa tipe orang dalam menyikapi datangnya bulan Ramadhan :
1. Menyikapi sebagai salah satu beban yang sangat berat
2. sebagai kewajiban yang harus dilakukan sampai selesai
3. sebagai sebuah KEBUTUHAN
Ulama salaf Ibnu Taimiyah pernah menyampaikan mengibaratkan puasa itu seperti sebuah santapan, jadi kalau dia tidak menyantap menu-menu yang ada di bulan Ramadhan dia akan sangat kelelahan. Tak heran ketika ba’da shubuh ia habiskan untuk Dzikir sampai waktu dhuha dan ditutup dengan shalah dhuha 2 rekaat.
4. Melipatgandakan pahala Puasa Ramadhan
Siapakah orang yang paling banyak pahalanya? Kata Rasulullah :
1. Orang yang paling banyak melakukan Dzikr.
2. Memberikan buka pada orang yang membutuhkan
Bahkan ada yang menyampaikan Rasulullah bersedekah lebih cepat dari pada angin yang berhembus. Luar biasa.....harus kita tiru!
3. Orang yang senantiasa bersabar dan bersyukur minimal menjelang buka dan shaur.
Batas minimal bersyukur adalah saat memulai dengan bismillah dan mengakhiri dengan Alhamdulillah....
5. bertahan berpuasa, meskipun lingkungan banyak yang berbuka.
Ada bonus yang akan ia dapatkan ketika dia berpuasa disaat orang lain berbuka : Malaikat akan bershalawat untuknya...
Mau?

KETIKA KITA SUDAH MASUK RAMADHAN, APA YANG KITA LAKUKAN?

Hal terpenting yang harus dilakukan adalah menjaga keutuhan pahala puasa dengan meninggalkan hal-hal yang merusak puasa seperti halnya :
1. Ghibah
Apalagi seorang akhwat potensi untuk ” Ghibah” lebih besar daripada akhwat karena wanita itu kuat di mulutnya, beda dengan lelaki yang kuat pada perutnya. So hati-hatilah....semoga tambahan potensi itu dapat kita alihkan untuk amalan yang mendatangkan kebaikan ( tilawah, dst....)
2. Berbohong

PERSIAPAN KELUAR DARI RAMADHAN

Ada beberapa hal yang harus kita persiapkan untuk keluar dari bulan Ramadhan, menuju bulan syawal atau diartikan bulan peningkatan. Harapannya setelah keluar dari bulan Ramadhan, apa saja amalan yang menjadi kebiasaan yang dilakukan di bulan Ramadhan dapat kita bawa untuk bulan-bulan berikutnya, tidak berhenti ketika Ramadhan berakhir pula.
Salah satu hal yang dapat kita lakukan adalah sebagai berikut :

Memaksimalkan 10 hari terakhhir bulan Ramadhan

Kenapa kita dianjurkan untuk memaksimalkan 10 hari terakhir bulan ramadhan :
1. karena yang dinilai oleh Allah SWT adalah Akhir dari amalan itu ( Yang dinilai adalah pamungkas dari hasil kita ) So kita harus menjaga semangat amalan kita bukan hanya semangat itu di awal saja, tengah saja tetapi bisa sampai akhir.
2. Akhir yang optimal menjadi INDIKASI amal awal dan tengah diterima oleh Allah SWT
 Balasan dari amal kebaikan adalah dimudahkan untuk melakukan 1 amalan menuju amalan yang lainnya.
3. Hari-hari terakhir Ramadhan biasanya hanya sedikit orang yang mampu bertahan menjaga amalannya dan sedikit sekali orang yang melakukan amal kebaikan, dan balasan kebaikan yang tinggi ( dilipatgandakan) pula yang dijanjikan kepada mereka yang mau bertahan. So istiqomahlah!!!

INTINYA ADALAH JAGA KONTINUITAS AMAL!!!!!!!!!!!!!

Kegembiraan yang didapatkan seorang muslim saat berpuasa adalah :
1. kegembiraan waktu berbuka
2. kegembiraan ketika bertemu dengan tuhannya



Semoga kita semua, sudah siap dengan segala perbekalan yang akan kita gunakan untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan yang tinggal hitungan hari lagi. Tidak ada kata TERLAMBAT!!! Karena semua hal yang kita niatkan untuk mempersiapkan datangnya puasa, Allahpun akan memberikan pahala sama seperti halnya ketika kita berada di bulan ramadhan.Amiin.

Rasulullah bersabda ” Belum pernah datang kepada kaum mukmin sebaik-baik bulan yang lebih baik dari bulan ramadhan dan belum pernah datang kepada kaum kafirin yang lebih buruk dari bulan Ramadhan...”

Semoga kita semua dapat mencapai derajat Taqwa!


Wallahu’alam bi showab wa Astaghfirulloh....

* ) Ringkasan catatan jihad ” kheisya illiyyana jadiid”
Agustus, 13 Agustus 2009
0/Dalam kerinduan menunggu kedatangan bulan nan mulia.



[+/-] Selengkapnya...

Jumat, 26 Juni 2009

K-A-n-G-E-n


Assalamu'alaykum warohmatullohi wabarakatuuh

Dari sudut perpustakaan pusat UNS kusampaikan salam rinduku pada antunna semua, yang telah menjalin tali silaturahhiim lewat dunia maya.Sungguh ada rasa rindu yang membuncah saat kembali kubuka weblogku yang telah lama tak kujumpai lagi. Sedih….pasti!Tetapi memang kondisi yang harus membuatku sejenak meninggalkan dunia ini.
aku harus fokus pada s******i yang butuh perjuangan dan totalitas disana. Do'akan kawan semoga Allah SWT senantiasa memudahkan jalan ini...menuju kesempurnaan ikhtiar yang HAkIKI...

Biarkan aku menyimpan ceritaku ini, kelak pasti akan kuceritakan pada kalian...
sebuah cerita yang apik,insyaalloh.. Cerita yang membuat kaki semakin mantap berpijak! mata tajam memandang kedepan...


sampai bertemu kembali...


aslmkm warohmatullohi wabarakaatuuhu



[+/-] Selengkapnya...

Selasa, 02 Juni 2009

Bidadari Seorang Pendiri Pergerakan


Dapatkan Mesej Bergambar di Sini



Assalamu'alaykum Wr.Wb

Beberapa waktu lalu saya mendapatkan sebuah kiriman artikel dari teman saya, dan tentunya sangat menarik menjadi konsumsi antunna muslimah! Untuk belajar dari seseorang yang luar biasaaa!!!!! Beliau adalah Bidadari seorang pendiri pergerakan, semoga kisah hidup beliau dapat menginspirasi kita semua...untuk menjadi sejatinya seorang MUSLIMAH!!!


Tidak mudah menjadi istri seorang Hasan Al Banna. Seseorang yang setiap detik kehidupannya sarat dengan kegiatan dakwah. Di pagi buta dia sudah bergegas untuk memulai berdakwah dan kembali pulang di gelap malam. Bisa dipastikan ia adalah seorang muslimah sejati, yang bisa mengisi kekosongan-kekosongan yang ditinggalkan oleh Imam Syahid Al Banna.

Adalah Lathifah As Suri perempuan itu. Ia berdiri disamping Imam Syahid Al Banna. Sejak awal Imam Syahid telah menegaskan bahwa ia butuh seorang muslimah yang kokoh, yang tak lekang dan surut oleh banyaknya halangan dan rintangan dalam berdakwah. Perjuangan Imam Syahid bukanlah suatu hal yang main-main, bukan hanya sekedar dakwah seperti kebanyakan orang waktu itu. Bukan hanya sekedar membangun rumah kardus. Imam syahid tengah dan hendak membangun sebuah peradaban. Dan ia percaya, peradaban tak akan pernah terwujud, tanpa seseorang yang ia yakini kesejatiannya.

Maka siapapun itu-pendampingnya-harus menyadari bahwa dipundaknya ada amanah yang sama besarnya dengan yang di emban oleh Imam Syahid. Ada dimensi waktu dan kuasa kapital disitu. Maka pertemuan diyakini menjadi suatu hal yang mahal bagi Imam Syahid dan istrinya.

Maka bagi Lathifah As Suri menjadi istri Hasan Al Banna menyimpan begitu banyak geregap. Sejak awal pernikahan, Lathifah sudah menyadari bahwa ia harus siap jika sewaktu-waktu dia harus menjalani hidup sendiri tanpa seseorang, tempat berlabuh hidup dan cintanya.

Dakwah Ikhwah yang dipimpin oleh suaminya banyak meminta resiko yang bukan main-main. Penjara bahkan nyawa menjadi konsekuensi logis, yang sewaktu-waktu siap menyapanya.

Tanpa diminta, Lathifah sudah tahu dan mengerti bagaimana ia harus menempatkan dirinya. Ia memutuskan menutup seluruh aktivitas luarnya. Hanya satu yang ia curahkan, jihad utamanya adalah dilingkup rumahnya sendiri. Mengurus rumah tangga dan membesarkan anak-anak mereka berdua adalah dua hal yang tidak kalah pentingnya dengan yang dilakukan oleh Hasan Al Banna.

Sebelum menikah dengan Hasan Al Banna, Lathifah berasal dari keluarga yang taat beragama. Hingga tak heran jika ia menyadari betul tuntutan hidup menjadi istri seorang dai.

Malam, ia harus rela untuk terbangun menyambut kepulangan suaminya. Walau tak jarang Imam Syahid berlaku sangat hati-hati, bahkan hanya untuk membuka pintu rumahnya sekalipun. Jauh dilubuk hatinya, Imam Syahid tidak ingin mengganggu tidur bidadari terkasihnya yang telah seharian mengurus rumah dan anak-anak mereka berdua. Imam Syahid bahkan tak segan untuk menyiapkan makan malam untuk dirinya sendiri.

Lathifah tidak pernah mengeluh, walau sehari-harinya hanya ia habiskan seputar rumah dan rumah saja. Ia tidak pernah menuntut lebih kepada Imam Syahid. Padahal, Lathifah pun -berlepas diri dari ia seorang istri Imam Syahid- menyimpan banyak potensi. Anak-anak mereka yang berjumlah enam orang sesungguhnya adalah pencurahan konsentrasinya menjalani hidup. Satu-satunya yang pernah membuat dirinya gamang adalah, ketika salah satu anak mereka sakit keras dan Imam Syahid harus tetap menjalankan jihadnya. Ia bertanya kepada suaminya,"Bagaimana jika ia meninggal?". Imam Syahid hanya menarik napas panjang, ia kemudian berujar "Kakeknya lebih tau bagaimana mengurusnya."

Sejak dini, Lathifah menanamkan wawasan keislaman kepada anak-anaknya. Mendorong mereka untuk membaca, sehingga dalam hidupnya mereka tidak terpengaruh dengan seruan-seruan destruktif. Ketika Imam Syahid bolak-balik keluar penjara, Lathifah berusaha bersabar dan komitmen.

Lathifah sangat menyadari peran dan kewajiban asasi seorang wanita sebagai istri dan ibu bagi anak-anaknya. Ia kosongkan waktunya untuk mendidik anak2nya. Ia bahagia melihat anak-anaknya sukses dalam hal akhlak dan amal. Ini tak mungkin terjadi jika seorang ibu sibuk di luar rumah. Seorang anak tidak mungkin belajar tentang akhlak dan amal dari orang selain ibunya.

Ketika Hasan Al-Banna syahid, anak-anaknya belumlah dewasa. Lathifah tidak lantas menyerah. Tak ada kesah ataupun ketakutan dalam hatinya. Ia sangat memelihara apa yang dikehendaki oleh mendiang suaminya. Ia tetap berlaku didalam rumah. Lathifah tidahk meremehkan hudud (batasan) yang Allah tentukan. Karenanya, tak heran diantara anak-anaknya tidak ada ikhtilat (percampuran) antara anak-anaknya dan sepupunya yang berlainan jenis.

Tidak ada yang berubah dirumah itu, apa yang Imam Syahid inginkan berlaku dikeluarganya masih tetap di pegang teguh oleh Lathifah. Sendirian, ia besarkan keenam anaknya. Dirumahnya kini ia mempunyai tugas tambahan, yaitu memperdalam wawasan keislamannya.Yang dimaksud dengan wawasan keislamannya adalah membaca Al-Quran dengan tafsirnya, mempelajari Sunnah Rasulullah SAW, haditsnya dilanjutkan dengan usaha kuat untuk menerapkannya. LAthifah juga masih menyempatkan diri mempelajari sejarah para salafussalih dan berita seputar dunia Islam. Lathifah menyadari menyepelekan masalah ini akan memunculkan persoalan serius. Seorang yang tidak menambah pengetahuan keislamannya, akan merasa sulit untuk bangga dengan keagungan dan kebesaran Islam. Dengan melalui pemahaman keislaman yang baik, seorang wanita akan menyadari betapa penting perannya terhadap keluarga dan masyarakat.

Perjuangan Lathifah membuahkan hasil yang gemilang. Semua anaknya sukses meraih predikat formal dalam pendidikan ilmiah. Yang sulung, bernama Wafa-menjadi istri Dr.Said Ramadhan. Kedua Ahmad Saiful Islam, kini sebagai sekjen advokat di Mesir. Ia juga pernah duduk di parlemen. Ketiga bernama Tsana, kini sebagai dosen di Universitas Kairo. Kelima Roja, kini menjadi dokter. Dan Halah sebagai dosen kedokteran anak di Universitas Azhar. Dan terakhir, Istisyhad sebagai doktor ekonomi Islam. Semuanya itu sebagai bukti, betapa berartinya sosok Ibu bagi keberhasilan dakwah sang suami. Selain juga untuk anak-anaknya, tentu.



[+/-] Selengkapnya...

Sabtu, 04 April 2009

Ingat 9 april!



jika politik adalah sesuatu yang abu-abu
yang menjadi senjata para penguasa
yang menjadi sindikat pengejar harta dunia
maka aku bukanlah itu
Namun jika politik adalah pembelaan & perjuangan
yang membangunkan keberanian retorika
dan lantang meneriakkan keadilan
maka aku adalah politikus itu

Jika demokrasi adalah belenggu penjajahan
diramaikan oleh tangan-tangan gila jabatan
disetir untuk mengubur kepribadian anak bangsa
maka itu bukan tempatnya
Namun jika demokrasi adalah sebuah peluru pembebas
yang pengusungnya adalah teladan sejati
dan ideologinya menembus keangkuhan parlemen
maka itu adalah kendaraannya..

forward this message


jika politik adalah sesuatu yang abu-abu
yang menjadi senjata para penguasa
yang menjadi sindikat pengejar harta dunia
maka aku bukanlah itu
Namun jika politik adalah pembelaan & perjuangan
yang membangunkan keberanian retorika
dan lantang meneriakkan keadilan
maka aku adalah politikus itu

Jika demokrasi adalah belenggu penjajahan
diramaikan oleh tangan-tangan gila jabatan
disetir untuk mengubur kepribadian anak bangsa
maka itu bukan tempatnya
Namun jika demokrasi adalah sebuah peluru pembebas
yang pengusungnya adalah teladan sejati
dan ideologinya menembus keangkuhan parlemen
maka itu adalah kendaraannya..

forward this message

[+/-] Selengkapnya...