; .: SePEnGgAL Kis4H :.: Bayi cerdas!mau...? ;
Ikuti Terus ya Jejak Petualangan KHEISYA!!!

Kamis, 13 November 2008

Bayi cerdas!mau...?


Assalamu’alaykum warohmatullohi wabarakaatuuhu….

Khaifa khalukum ikhwah fillah…..
Subhanalloh rasanya sangat rindu dengan antunna semua. Lama tak up date blog ini…..Setelah UTS kelar, Rasanya benar-benar plong! Seperti keluar dari suatu beban yang luar biasa. Walau setelah ini pasti akan ada ujian hidup yang harus kita lalui.
Habis main dari mbak kos sebelah, aku menemukan artikel menarik tentang “kecerdasan otak anak”di suatu majalah yang dipublish pada halaman ke-11. Kebetulan akhir-akhir ini lagi menyukai hal-hal yang berbau anak dan rumah-tangga…mungkin panggilan nurani untuk menyiapkan perbekalan, untuk mengarungi madrasah kehidupan kelak. Dan saya merasa sangat egois jika artikel ini hanya untuk konsumsi pribadi saja. Semoga ini bisa bermanfaat buat antunna juga, mampu menambah bekal kita untuk menjalani kehidupan selanjutnya, saat berumah tangga nanti. Karena antunna adalah muslimah!!! Maka jadilah sosok ibunda yang solutif dan berwawasan global. Tentunya isteri yang cerdas!

GA( Gangliosida), optimalkan Koneksi Sel Otak Agar Belajar lebih Cepat.
Memiliki anak yang sehat dan cerdas tentu menjadi dambaan setiap orang tua. Kecerdasan adalah modal yang tak ternilai bagi anak untuk mengarungi kehidupan.

Untungnya, untuk menjadi cerdas ternyata bukanlah harga mati. TAhukan Anda bahwa perkembangan kecerdasan, kreatifitas dan perilaku si baby sudah mulai sejak dia berada dalam kandungan? BAyi sudah belajar dari lingkungannya tepatnya sejak kehamilan 6 bulan. Ini tergantung pada kualitas fungsi otak anak. Kualitas fungsi otak tergantung pada banyaknya sel otak, percabangan sel otak (dendrite, axon) kuantitas dan kualitas synape (hubungan antar sel otak), serta banyaknya neuro transmitter (zat yang pengaktif sylape), dan kualitas myelin.

Setiap bayi yang baru lahir memiliki 100 miliar sel otak. Namun belum semua sel otak bayi saling terhubung. Untuk mendapatkan kualitas sel otak yang baik, sel otak bayi harus saling terhubung dan berkembang, kekuatan dan jumlah hubungan baru antar sel syaraf tersebut merupakan dasar untuk memorinya. Makin banyak sel syaraf yang terbentuk dan bersambung, makin besar kapasitas memori otaknya. Untuk membantu mengoptimalkan hubungan antar sel tersebut dapat dilakukan melalui pemberian nutrisi untuk otak dan stimulasi dari lingkungan. Salah satu nutrisi yang berperan pada perkembangan otak adalah Gangliosida.
Gangliosida dibutuhkan otak si bayi karena membantu pembentukan sinapsis, yang merupakan penghubung antar sel-sel otak sehingga pesan atau informasi dapat tersimpan dan terkirim secara optimal. Jumlah hubungan antar sel otak tersebut menjadi dasar untuk memori manusia, sehingga jika hubungan antar sel syaraf yang semakin kuat akan membuat kemampuan bayi untuk belajar dan mengingat semua informasi akan semakin baik.
Hasil penelitian membuktikan gangliosida berperan antara lain untuk pertumbuhan sel syaraf, membantu migrasi sel neuron, membantu pembentukan struktur otak, dan mendukung kemampuan memori otak.

Gangliosida terkonsentrasi pada otak, membentuk 10% dari jaringan lemak otak, terutama pada bagian cerebral korteks, khususnya pada hubungan antar sel otak (sinapsis). Gangliosida pada otak jumlahnya 15 kali lebih banyak disbanding yang ada pada organ tubuh lainnya, menunjukkan pentingnya GA pada fungsi otak.

Gangliosida terdapat dalam Air Susu Ibu (ASI), susu sapi, daging, dan telur (produk hewani),. BAyi yang diberi ASI memiliki jumlah Gangliosida yang lebih tinggi pada otaknya disbanding bayi yang diberi susu formula biasa tanpa tambahan Gangliosida. Pemberian Gangliosida melalui asupan makanan seperti ASI penting untuk meningkatkan kadarnya dalam otak.

Disamping nutrisi, stimulasi juga penting. Pada trimester ketiga kehamilan hingga anak usia 2.5 tahun merupakan periode emas pertumbuhan otak anak atau yang dikenal sebagai “Barin Growth Spurt”. Pada masa ini terjadi percepatan pertambahan berat otak dan pertumbuhan sel-sel syaraf otak, jumlah dan hubungan yang terbentuk antar sel syaraf tersebut akan menentukan kinerja otak dari mulai kemampuan berkomunikasi hinggag bersosialisasi. Otak anak memerlukan input stimulasi yang cukup dan sesuai. Bagi bayi, ibu adalah sumber pemberi stimulasi yang utama. Riset menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara pengalaman social tertentu (seperti jumlah kontak interpersonal yang diterima seorang anak, contohnya digendong, dibuai, disentuh) dengan kecerdasan seorang anak
(Tabloid Nova, 27 Okt-2 Nov’08 by Ines Gulardi, Msc)

Gimana ukh habis baca artikel diatas? Anak cerdas yang kita harapkan bukan? Semoga kita mampu mengambil hikmah dari sesuatu hal…

Wallahu’alam bi showab

Wassalamu’alaykum warohmatullohi wabarakaatuuhu



0 komentar:

Poskan Komentar

 

Got My Cursor @ 123Cursors.com